Gaya Hidup Mempengaruhi Terjadinya Mata Myopia
![]() |
| Myopia |
Di aneka macam cuilan dunia, jumlah penderita rabun jauh atau myopi terus meningkat dari masa ke masa. Di Amerika Serikat saja, populasi orang berkaca mata minus meningkat dari sekitar 25 persen pada tahun 1970-an menjadi 42 persen di awal tahun 2000.
Faktor genetik memang sangat berperan alasannya yaitu adakala sifat ini dapat diturunkan, namun itu bukan satu-satunya. Belakangan, gaya hidup di perkotaan yang jarang keluar rumah lebih sering dijadikan kambing hitam alasannya yaitu menciptakan mata jarang kena sinar matahari.
Otak dan mata berevolusi dengan sangat lambat, sehingga perkembangannya masih sama menyerupai pada nenek moyang insan yang hidup jutaan tahun silam. Sinar matahari sangat mensugesti indra penglihatan alasannya yaitu sampai masa itu insan lebih banyak beraktivitas di luar ruangan.
Kini di zaman moderen, insan lebih banyak beraktivitas di dalam ruangan dan melihat dengan cahaya buatan yang berasal dari lampu. Perbedaan intensitas cahaya lampu dengan matahari memperlihatkan efek terhadap pertumbuhan mata, khususnya jarak antara lensa dengan retina.
Karena cahaya lampu relatif lebih redup, aneka macam komponen mata tidak berkembang dengan baik sehingga bayangan tidak jatuh sempurna pada retina. Akibatnya penglihatan jadi kabur dan harus dibantu dengan kacamata minus semoga pandangan jadi lebih fokus.
Teori ini bukan sebatas dugaan, alasannya yaitu sudah dibuktikan dalam aneka macam penelitian. Salah satunya menyerupai yang dimuat dalam jurnal Archieve of Opthamology, yang melibatkan bawah umur keturunan China usia 6-7 tahun yang tinggal di Australia dan Singapura.
Kedua populasi bawah umur tersebut mempunyai faktor genetik yang sama, dalam arti jumlah orangtua yang juga mengalami rabun jauh. Namun populasi yang tinggal di Singapura, jumlah anak yang menderita rabuh jauh mencapai 29 persen atau 9 kali lebih banyak dari Australia.
Faktor yang membedakan antara keduanya yaitu gaya hidup, alasannya yaitu ternyata bawah umur di Singapura lebih jarang beraktivitas di luar ruangan. Anak-anak di Singapura rata-rata hanya keluar rumah 3 jam/pekan, sedangkan di Australia durasinya mencapai 14 jam/pekan.
"Untuk mengurangi risiko mata minus, caranya sangat mudah. Biarkan bawah umur bermain dan menghabiskan waktunya lebih usang di luar rumah," ungkap Sandra Aamodt, seorang profesor biologi molekuler dari Princeton University menyerupai dikutip dari NYTimes, Kamis (23/6/2011) - Gaya Hidup Mempengaruhi Terjadinya Mata Myopia.

Comments
Post a Comment